Selama beberapa tahun terakhir, China berhasil menjadi raksasa dunia dalam industri mobil listrik atau EV (Electric Vehicle). Dukungan besar dari pemerintah, subsidi miliaran dolar, dan persaingan antar daerah membuat ratusan perusahaan EV bermunculan dengan sangat cepat. Awalnya, strategi ini dianggap sebagai keberhasilan besar yang menunjukkan dominasi teknologi China di masa depan. Namun kini, kesuksesan tersebut mulai berubah menjadi masalah serius. Kota-kota di China mulai dipenuhi “kuburan mobil listrik” — ribuan kendaraan baru yang tidak terjual dan akhirnya terbengkalai begitu saja.
Masalah utama berasal dari overproduksi dan persaingan yang terlalu ekstrem. China saat ini mampu memproduksi sekitar 54 juta mobil per tahun, tetapi penjualannya hanya setengah dari angka tersebut. Akibatnya, banyak perusahaan mulai terjebak perang harga brutal demi bertahan hidup. BYD bahkan memangkas harga mobil hingga lebih dari 30%, memaksa pesaing lain ikut menurunkan harga meski keuntungan mereka semakin tipis. Margin keuntungan industri EV China kini jatuh drastis dibanding beberapa tahun lalu, dan banyak perusahaan kecil mulai bangkrut karena tidak mampu bertahan dalam kompetisi yang terlalu agresif.
Situasi ini diperparah oleh kebijakan subsidi dan persaingan antar provinsi di China. Sejak 2009, pemerintah daerah berlomba menarik pabrik EV dengan insentif besar demi meningkatkan ekonomi lokal. Akibatnya, terlalu banyak pabrik dibangun tanpa mempertimbangkan apakah pasar benar-benar membutuhkan produksi sebanyak itu. Banyak kendaraan yang akhirnya dijual melalui lelang dengan harga jauh di bawah harga resmi hanya untuk mengurangi stok menumpuk. Fenomena ini membuat sebagian analis mulai mempertanyakan apakah industri EV China sedang memasuki fase bubble ekonomi yang bisa pecah sewaktu-waktu.
Dampaknya kini tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga mulai memicu ketegangan global. European Commission telah memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil listrik China karena dianggap mendapat subsidi tidak adil. Sementara itu, Beijing juga mulai menggunakan kekuatan rantai pasok baterai sebagai alat tekanan geopolitik terhadap Barat. Video ini menunjukkan bahwa meski China masih memimpin revolusi kendaraan listrik dunia, keberhasilan yang terlalu cepat dan terlalu besar justru berpotensi menciptakan masalah baru bagi ekonomi global dan masa depan industri EV itu sendiri.