Pada tahun 1961, dunia dikejutkan oleh hilangnya Michael Rockefeller di wilayah Papua yang saat itu masih berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Michael bukan orang biasa — ia adalah cicit dari John D. Rockefeller dan putra dari Nelson Rockefeller, salah satu keluarga paling kaya dan berpengaruh di Amerika Serikat. Namun berbeda dari keluarganya yang identik dengan bisnis dan politik, Michael justru tertarik pada dunia antropologi dan budaya suku-suku terpencil. Ketertarikannya terhadap seni dan kehidupan suku Asmat membawanya ke salah satu misteri paling terkenal dalam sejarah modern.
Peristiwa hilangnya Michael bermula ketika perahu yang ia tumpangi bersama antropolog Belanda René Wassing terbalik di laut akibat ombak besar. Setelah menunggu bantuan yang tak kunjung datang, Michael memutuskan berenang menuju daratan dengan mengikat jeriken bensin sebagai pelampung. Kalimat terakhirnya yang terkenal adalah, “I think I can make it.” Setelah itu, ia tidak pernah terlihat lagi. Pemerintah Belanda dan Australia langsung meluncurkan pencarian besar-besaran, tetapi tidak menemukan jejak pasti tentang nasibnya.
Spekulasi pun mulai berkembang, terutama karena hubungan tegang antara suku Asmat dan pemerintah kolonial Belanda saat itu. Beberapa tahun sebelumnya, pasukan kolonial disebut membunuh sejumlah pemimpin Asmat, memicu tradisi balas dendam “nyawa dibayar nyawa.” Jurnalis Carl Hoffman dalam investigasinya bahkan menyebut kemungkinan Michael dibunuh sebagai bagian dari ritual pembalasan suku. Rumor tentang kanibalisme kemudian menyebar luas di media internasional dan membuat kisah ini semakin legendaris.
Namun hingga sekarang, tidak ada bukti definitif yang benar-benar menjelaskan apa yang terjadi pada Michael Rockefeller. Beberapa cerita lisan dari tetua Asmat mengisyaratkan adanya rahasia yang sengaja disembunyikan karena takut balas dendam dari dunia luar. Bahkan rekaman tahun 1969 yang menunjukkan sosok pria kulit putih di tengah masyarakat Asmat sempat memunculkan teori bahwa Michael sebenarnya masih hidup dan memilih berbaur dengan suku tersebut. Misteri ini akhirnya tetap menjadi salah satu teka-teki terbesar abad ke-20 — perpaduan antara ekspedisi, budaya tribal, kolonialisme, dan hilangnya seorang anggota keluarga elite dunia di hutan Papua yang belum pernah terpecahkan sepenuhnya.